Friday, February 11, 2011

ramai yang punya hati padanya.

Lantai bilik bergegar dengan dentuman, bangun menyelak mengintai dari celahan langsir tingkap, dan mata saya bertemu dengan ratusan (mungkin ribuan?) cahaya bewarna-warni yang memercik ke langit kelam.

Indah, dan saya jadi tersenyum sendiri, melihat untuk satu minit, menunggu percikan yang lebih tinggi. Jauh di balik bangunan seberang sana. (bayangkan bunga api ditembak ke langit, merahnya, hijaunya, kuningnya bagaimana)

Ye, dia si bunga api. *sengih.

Lalu saya jadi terfikir dan terdiam. Apa boleh kalau saya katakan begini...? Kalau dunia; yang diciptakan Allah Taala ini, umpamanya seperti bunga api. :) Indah, tapi setiap butiran percikannya ke langit, cuma sementara. Biar kalau dipuja cantiknya dia, mendongak kita ke langit kerananya, semua itu takkan kekal lama.

Tahannya setiap pecahan percikan itu lebihnya takkan sampai lima saat kan? Tak percaya, saat kamu bertentang mata dengan bunga api nanti, cuba untuk mengira, ye. Kurang lebih seperti dunia, :) Yang kalau dikagumi melebihi apa adanya, tak mustahil untuk kita lekas kecewa.

Bukankah buktinya sekarang ada di mana-mana? Di celah 'hancurnya' akhlak remaja kita, di celah 'bangkitnya' kejahiliyahan manusia? Heh, maaflah. Buktinya ada di depan mata.

Sesiapapun mahu sesuatu yang kita suka untuk ada selamanya, biar jangan lenyap, tapi paling mustahil kalau yang disukakan itu berunsur dunia. Harta? Kita takkan boleh heret hingga ke liang lahad, bahkan di Padang Mahsyar kita dibangkit sehelai sepinggang. Pangkat? Sedangkan di Tanah Suci saja sudah luruh semuanya, apa lagi di mata Tuhan, kita yang sememangnya sama. Cinta? Alhamdulillah kalau yang kekal hingga habis nyawa, tapi yang ranapnya takkan pernah habis dibilang.

Kerana yang menetap dan menciptakan takdir itu, Dia yang ada di 'atas sana'. :)

Dari Tsauban bin Bajdad, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka berkumpul untuk menyantap makanan di nampan. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu?”

Beliau menjawab, “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih, buih aliran sungai. Sungguh Allah benar-benar akan mencabut rasa takut pada hati musuh kalian dan sungguh Allah benar-benar akan menghujamkan pada hati kalian rasa wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (H.R. Abu Daud dan Ahmad)

Apa kalau dunia tak seindah ini, ada di antara kita yang akan masih punya hati padanya? Fikir, dan kamu simpan dalam-dalam. Buat muhasabah diri, tak perlu dicerita pada sesiapa. Kadang-kadang, ada yang lebih wajar untuk tak dikongsi.

Maaf, kalau ada yang tak setuju dengan ideologi saya kalau bunga api = dunia. Mempesona, tapi seketika? Terpulang untuk didefinisikan bagaimana, cuma harapnya inshaAllah, sampailah apa yang ada di dalam hati saya sewaktu terlihatkan bunga api tadi.

Wallahua'alam, :)

5.26pagi, sendirian di bilik menanti Subuh.

5 comments:

Johan "Champ" Radzi said...

Wahh wahh, perumpamaan yang sebegitu hebat!

Att Ashburn said...

salam nuha...
terdiam sekejap.sungguh, terkesan sangat.
thanks...

syauqah wardah said...

johan radzi

terima kasih, ilham datang dari Dia juga. :)

kak att

wsalam sis...

syukur, alhamdulillah kalau sampai. heeeee. kasih diterima, kak att ;)

Anonymous said...

setuju dengan ujaran saudari.

- Nil -

syauqah wardah said...

kamu, terima kasih.

:)